Saturday, March 4, 2017

Saatnya Lindungi Kelestarian Hutan, Salah Satunya Dengan “DRONE”


MERANGIN, denyutjambi.com – Rusaknya kawasan hutan di Provinsi Jambi sudah menjadi ke khawatiran yang luar biasa bagi pemerintah. Meski sudah berulang-ulang kali diperingati bahkan diterbitkan perda bahkan undang-undang, namun ulah oknum yang tidak bertanggung jawab tetap saja melakukannya.

Seperti data yang diperoleh dari Dinas Kehutanan Provinsi Jambi pada akhir tahun 2016 menyebutkan bahwa 44% kawasan hutan di Jambi rusak. Salah satu kabupaten yang terancam hutannya yaitu Merangin. Selain deforestasi akibat perambahan hutan, penambangan emas tanpa izin (PETI) juga menjadi biang keladi atas hilangnya tutupan hutan di Merangin. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah untuk mengatasi persoalan ini dirasa kurang memadai.

Sementara itu menurut Suharsih, salah seorang pemerhati kelestarian hutan yang berasal dari yayasan SATUNAMA, pada acara Pemetaan Hutan dengan menggunakan DRONE. Dengan Drone inilah atau lebih mudah dikenal dengan nama Pesawat tanpa awak nantinya yang akan digunakan masyarakat Merangin Jambi untuk melindungi hutannya dari kerusakan akibat perambahan dan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

“Kami percaya dengan masyarakat desa. Merekalah ke depan yang akan melindungi dan mengelola hutan di Merangin. Masyarakat kita latih menggunakan Drone untuk memetakan serta memantau hutan di desanya,” Ungkap Suharsih dari Yayasan Satunama dalam acara pelatihan pemetaan hutan menggunakan Drone di Bangko tanggal 24 Februari – 2 Maret 2017.

Sementara itu, menurut Eko Waskito, Direktur G-cinDe, pemetaan hutan oleh masyarakat dengan drone merupakan salah satu kebutuhan dalam pengelolaan Hutan Desa dan Hutan Adat yang ada di Desa Lubuk Birah, Lubuk Beringin, Durian Rambun, Tiaro, dan Birun. Lima desa tersebut sudah sejak 2011 aktif mengelola hutan yang ada di desanya.

“Kearifan lokal masyarakat lima desa itu dalam mengelola hutan perlu didukung salah satunya dengan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pemetaan hutan menggunakan teknologi Drone,” lanjut Eko Waskito.

Terpisah, menurut Narasumber dalam pelatihan ini yaitu Arif Munandar beserta team dari Swandiri Institute, Pontianak. Lembaga ini telah berpengalaman melakukan pemetaan lahan dengan Drone di berbagai wilayah di Indonesia. Menurut Arif, jika dibandingkan dengan peta citra satelit, peta Drone lebih detail dan lebih real time dalam melihat kondisi lahan saat itu juga. Selain harga dan biayanya lebih terjangkau, hasilnya pun lebih baik.

“Dengan masyarakat memiliki peta real time, mereka dapat merencanakan pola ruang baik untuk pemukiman, perkebunan, pertanian, dan juga kehutanan. Jadi masyarakat mempunyai perencanaan mana lahan yang harus dilindungi, dan mana lahan yang akan dibudidayakan,” Ungkap Arif.

Sementara itu, Sekda Kabupaten Merangin Drs. H. Sibawaihi, ME dalam penutupan pelatihan menyampaikan bahwa Bupati Merangin sangat berbangga bahwa masyarakat dapat meningkat pengetahuan dan ketrampilannya.

“Pemerintah Kabupaten Merangin juga siap bekerjasama dengan konsorsium ini untuk mengoptimalkan peran hutan desa dan hutan adat di Merangin untuk kesejahteraan masyarakat,”imbuhnya.

Saat ini lima desa tersebut tengah mendapatkan pendampingan dari Konsorsium Satunama, G-cinDe, ARuPA dan Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Dengan program kemakmuran hijau yang didanai oleh MCA-Indonesia, konsorsium ini mendampingi masyarakat mengolah biji buah kepayang menjadi virgin oil dan melakukan pengelolaan hutan desa dan hutan adat secara lestari dan produktif.

Hampir 15.000 hektar hutan di 5 desa tersebut saat ini masih dalam kondisi yang lestari. Hal ini sangat sejalan dengan program pemerintahan Jokowi yang mentargetkan 12,7 juta hutan di Indonesia dapat dikelola oleh masyarakat melalui skema Perhutanan Sosial yang salah satu bentuknya adalah Hutan Desa dan Hutan Adat. (*)

Sumber: http://denyutjambi.com/2017/03/04/saatnya-lindungi-kelestarian-hutan-salah-satunya-dengan-drone/

Friday, March 3, 2017

Metode Baru Pemantauan Hutan Menggunakan Drone Kini Diterapkan Di Merangin


Kamis, 2 Maret 2017

MERANGIN - Yayasan Satunama tanpak serius mencerdaskan kehidupan berbangsa, tampak di salah satu acara yang kini di laksanakan mengundang masyarakat di lima desa terbagi dua kecamatan, yang bertujuan untuk memberikan pelatihan pemantauan hutan dan menjaga kelestarian alam di kabupaten merangin,

Acara yang dilaksanakan selama 7 hari di mulai tanggal 24 Februari sampai 2 Maret 2017, kini di ikuti sebanyak 25 peserta yang terbagi di lima desa dan dua kecamatan di kabupaten Merangin.

Saat dikonfirmasi Manager Program Yayasan Satunama menuturkan “Salah satu agenda yang sangat di tonjolkan dalam pelatihan ini, terkait pemetaan wilayah, menggunakan metode Drone untuk melihat kawasan hutan, isi hutan, potensi hutan dan kita bisa menjaga hutan”

Ditambahkan, “Terkait acara materi yang kita sajikan, Teori, Cara menerbangkan drone, dan praktek bagi seluruh peserta cara menggunakan drone itu sendiri, ada yang jadi pilot dan ada yang jadi analisis data nya” Jelas Arsih Manager Program Yayasan Satunama kepada matajambi.com

Acara ini sangat bermanfaat untuk kita dan masyarakat terutama membantu tugas pemerintah.

Pendamping Lapangan Sukron “Acara yang mengusung tema Pelatihan Pemetaan Partisipatif Kawasan Hutan Menggunakan Metode Drone di 5 Desa di Kabupaten Merangin, yang diikuti 25 peserta di 2 Kecamatan di Kabupaten Merangin, terbagi dari masyarakat biasa dan pemerintah desa” tambah Sukron. (*) Wendi Wahyudi.

Sumber: http://matajambi.com/02/03/2017/metode-baru-pemantau-hutan-menggunakan-drone-kini-diterapkan-merangin/

Sunday, February 26, 2017

Pertama Kali di Indonesia, Pembibitan Kepayang !

Biji kepayang yang mulai tumbuh kecambahnya


Pernah mendengar istilah mabuk kepayang? Ya, memang kepayang dapat memabukkan jika proses mengkonsumsinya tidak melalui proses yang benar. Kepayang adalah jenis pohon berbuah yang dalam bahasa latinnya disebut Pangium Edule. Penyebutan kepayang lazimnya dilakukan di pulau Sumatera. Sementara itu, di Jawa pohon buah ini sering dikenal dengan kluwek. Jika anda pernah makan brongkos di Magelang atau Rawon di Surabaya, buah kluwek menjadi salah satu bahannya, yang kemudian berdampak pada warna makanan tersebut menjadi kehitam-hitamanan.

Di Jambi, masyarakat adat khususnya di Kabupaten Merangin terbiasa mengolah buah ini menjadi minyak goreng. Pohon-pohon kepayang di Merangin tumbuh alami di hutan dan di ladang masyarakat. Masyarakat memelihara dan memanfaatkan buahnya. Saya bertanya kepada banyak masyarakat di desa-desa seputar Merangin, bahwa masyarakat tidak pernah membudidayakan tanaman ini dalam arti membuat pembibitan lalu menanamnya. 

Konsorsium IPHD yang terdiri dari Yayasan Satunama, Gerakan Masyarakat Cinta Desa (G-cinDe), Lembaga Arupa, dan Universitas Mercu Buana Yogyakarta dengan dukungan pendanaan dari Yayasan Kehati, MCA - Indonesia dan MCC mencoba untuk menangkap potensi kepayang di Merangin. Dengan kandungan Omega 3 dan Omega 6 yang terdapat di minyak kepayang, komoditas ini sangat layak untuk dikembangkan dan dibudidayakan. Kami telah berbicara dengan masyarakat tentang ide tersebut, dan masyarakat menyambut dengan baik. Salah satu desa yang siap untuk menciptakan sentra pembibitan kepayang adalah Desa Lubuk Beringin Kecamatan Muara Siau Kabupaten Merangin.

Lewat pendamping desanya yaitu Rajo Mudo Arief Musvidi, masyarakat membuat pembibitan buah kepayang di salah satu lahan milik warga dengan luas 3 hektar. Namun untuk saat ini, lahan yang baru dimanfaatkan untuk pembibitan kepayang tersebut berukuran 10 meter x 13 meter. 

Masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Pengelola Kepayang Desa Lubuk Beringin bergotong royong mengumpulkan buah kepayang yang jatuh dari pohonnya. Mereka mengumpulkan buah tersebut menjadi satu, lalu membiarkan buah tersebut busuk. Tujuan utamanya yaitu membusukkan daging buah, untuk kemudian dapat mengambil biji kepayang. Setelah biji di dapat, lalu biji tersebut disemaikan tidak ditanah, melainkan dimasukkan ke dalam karung goni. Mengapa disemai di karung goni? Karena di dalam karung goni, air yang disiramkan dapat tersimpan dalam karung goni, sehingga kondisi kelembapan dapat terjaga.

Kelembapan ini memicu kecambah muncul dari biji buah kepayang. Setelah biji tersebut muncul kecambahnya, lalu biji dipindahkan di polibag. Membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk biji tersebut mulai muncul kecambahnya di dalam karung goni. Setelah itu, biji yang sudah diletakkan di polibag lalu disiram. 

Masyarakat Lubuk Beringin telah melakukan pembibitan sekitar 2.000, dan yang berhasil sekitar separuhnya. Gagal separoh karena telah melalui proses belajar dengan melakukan persemaian di tanah tadi. Kemudian sekitar 3 bulan setelahnya, ketika kecambah tersebut tumbuh besar dan tinggi dengan kira-kira 1 meter 20 centimeter, lalu dipindahkan dari polibag ke tanah lokasi penanaman kepayang. 

Menurut warga desa, dengan panjang batang sekitar 1 meter tersebut, pohon kepayang kecil mempunyai akar sekitar 50 cm. Artinya, dengan polibag yang kecil, akar akan tembus sampai ke tanah. Oleh karena itu, diperlukan alat khusus untuk mengambil akar tersebut di tanah. Agar semaksimal mungkin akar dapat terselamatkan dan dapat ikut tertanam di lokasi penanaman. 

Desa Lubuk beringin tidak sendiri dalam melakukan pembibitan ini. Ada 4 Desa lain yang melakukan hal yang sama dalam bingkai program IPHD yang diinisiasi oleh Satunama dan anggota konsorsiumnya. Desa lain tersebut yaitu Durian Rambun, Lubuk Birah, Tiaro, dan Birun. Tetapi memang proses pembibitan dari 4 desa tersebut tidak seprogresif yang dilakukan di Desa Lubuk Beringin. Desa-desa yang lain tersebut saat ini baru pada tahap penyiapan lahan dan pengumpulan buah kepayang untuk selanjutnya di semaikan.

Kegiatan pembibitan ini merupakan bagian dari program besar institusionalisasi pengelolaan hutan desa dan adat di 5 desa tersebut. Kepayang diproyeksikan menjadi tanaman endemik yang dilestarikan oleh 5 desa tersebut dengan tujuan untuk mengkonservasi hutan desa dan hutan ada yang ada di wilayah tersebut. Selain itu, pengolahan biji kepayang menjadi minyak kepayang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat desa nantinya.

Pelatihan Pengolahan Kepayang (2)

Minyak kepayang hasil penyaringan secara bertahap menjadi Virgin Oil

Setelah awal Januari 2017, masyarakat 5 Desa mendapatkan pelatihan tentang dasar-dasar produksi minyak goreng dari biji buah kepayang, kali ini masyarakat mendapatkan pelatihan dan praktek langsung bagaimana membuat minyak kepayang dengan alat-alat yang lebih modern.

Berikut ini, alat-alat yang di gunakan masyarakat waktu dulu, alat-alat yang digunakan sekarang, fungsi serta kelebihannya.

Untuk alat mengangkut dari pohon kepayang menuju rumah, biasanya masyarakat menggunakan alat pengangkut semacam wadah dari Ambung bambu menjadi Ambung rotan. Kelebihan bahan rotan adalah kualitasnya lebih bagus dan awet tidak mudah rusak. Tentang bahan baku rotan, sudah terdapat di lingkungan masyarakat di 5 desa ini.

Wadah atau tempat untuk megukus buah kepayang yang dulu menggunakan kuali berbahan tanah liat, saat ini menggunakan kukusan rebus berbahan alumunium. Selain memiliki kapasitas lebih banyak, kukusan ini tidak mudah pecah, dan lebih cepat menghatarkan panas sehingga lebih cepat mengukus buah kepayang.

Alat pencukil yang dulu menggunakan bambu, saat ini menggunakan besi. Pencukil adalah alat yang digunakan untuk memisahkan antara kulit dan daging kepayang dengan biji kepayang yang akan digunakan sebagai bahan untuk pembuatan minyak kepayang. Keunggulan dari pencukil besi ini yaitu alatnya lebih kuat dan tahan lama. Sehingga membantu mempercepat proses pencukilan biji kepayang.

Dan alat satu ini yang paling berat dan bernilai mahal yaitu alat penggilingan atau penghacuran biji kepayang. Dahulu masyarakat menggunakan balok kayu besar yang di atasnya diduduki oleh beberapa orang untuk menindih sejumlah biji kepayang yang ditaruh di dalam wadah rotan. Saat ini sudah ada alat penggiling atau penghancur kepayang dengan menggunakan mesin yang berbahan bakar bensin premium. Alat ini jelas sangat efektif dan efisien dalam proses penggilingan biji kepayang. 

Satu lagi alat yang diadakan untuk semakin mempermudah dan meningkatkan volume produksi minyak kepayang yaitu alat press. Dahulu masyarakat menggunakan kekuatan tangan untuk memeras atau mengepres serbuk kepayang untuk kemudian menjadi minyak kepayang. Saat ini, masyarakat menggunakan mesin press dengan kekuatan kempa hidrolik. Selain lebih ringan karena menggunakan teknologi tepat guna, hasil minyaknya juga lebih higienis dan juga bisa mendapatkan volume hasil minyak yang jauh lebih besar.

Beberapa alat tersebut dapat dipastikan oleh tim konsorsium IPHD—yakni konsorsium pelaksana program ini— dapat dikelola keberlanjutannya oleh masyarakat. Program Institusionalisasi Pengelolaan Hutan Desa adalah program yang dijalankan oleh Yayasan Satunama Gerakan Masyarakat Cinta Desa (G-cinDe), Lembaga Arupa, dan Universitas Mercubuana Yogyakarta atas dukungan pendanaan dari Yayasan Kehati, MCA - Indonesia dan MCC.

Dalam pelatihan pengelolaan kepayang tahap 2 ini, para peserta tidak hanya mendapatkan materi kelas, tetapi lebih banyak diajak untuk melakukan praktek langsung pengolahan minyak kepayang dengan menggunakan alat-alat yang disebutkan di atas. 

Secara teoritik, minyak goreng pada dasarnya ada dua jenis. Jenis pertama yaitu Crowd Oil. Jenis ini adalah minyak goreng komersiil lazimnya berbahan kelapa sawit yang sering kita temui di warung-warung atau minimarket. Warnanya kuning. Biasanya melalui proses penyaringan antara satu sampai 2 kali. Sedangkan minyak jenis kedua yaitu Virgin Oil.

Jenis ini adalah minyak dengan kualitas tinggi. Biasanya warna yang sempurna yaitu mendekati warna air mineral, bening. Semakin mendekati bening, maka virgin oilnya semakin sempurna. Proses penyaringannya memerlukan 3 sampai 5 kali penyaringan. Proses penyaringan menggunakan arang aktif. 

Pelatihan ini tergolong berhasil. Karena berdasarkan target bahwa masyarakat mampu menggunakan alat baru yang lebih efektif dan efisien, serta masyarakat mampu memproduksi kedua jenis minyak yaitu crowd oil dan virgin oil. Partisipasi dari masyarakat juga optimal dan juga berimbang antara peserta laki-laki maupun perempuan.

Dalam pelatihan ini menghadirkan narasumber yaitu Ir. Wafid Dinarto, MSi yang juga merupakan Dekan Fakultas Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Pelatihan berlangsung selama 10 hari dengan masing-masing desa sebanyak 2 hari. Dilaksanakan pada 26-30 Januari 2017 di 5 Desa di Merangin Jambi. Peserta total sebanyak 130 laki-laki dan 138 perempuan.

Rencana ke depan setelah pelatihan ini, masyarakat akan memproduksi minyak kepayang dengan serterusnya akan mengurus packaging serta perijinan PIRT dan hal-hal prosedural lain. Analisis dan rencana bisnis akan terus dimatangkan untuk menuju produksi massal. Sehingga rencana branding merangin sebagai penghasil minyak kepayang akan terjadi. 

Sunday, January 15, 2017

Pelatihan Pengolahan Kepayang (1)

Biji buah kepayang yang telah dikeringkan

MINYAK KEPAYANG DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN OTAK MANUSIA, KARENA MENGANDUNG OMEGA 3 DAN 6 (Dr. Ir. Bayu Kanetro, MP)

Begitulah salah satu kata pembuka yang disampaikan Pak Bayu seorang ahli pengolahan hasil pertanian dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta saat menjadi narasumber/fasilitator dalam pelatihan pengolahan minyak kepayang di Merangin Jambi.
Pohon kepayang (Pangidum edule) merupakan pohon bagi konservasi tanah dan air yang banyak tersebar di wilayah Sumatra khususnya di daerah Jambi. Pohon kepayang berbuah lebat pada musimnya. Biji buah kepayang telah dimanfaatkan oleh masyarakat secara tradisional/turun temurun sebagai bumbu masak (kluwek), obat tradisional dan minyak goreng. Biji buah kepayang mengandung minyak sekitar 24 g per 100 g bahan (Anonim, 2016) dengan komposisi asam lemak sebagian besar terdiri dari asam lemak tidak jenuh (ALTJ) yaitu asam oleat 38,4%; asam linoleat 42,2%; dan asam linolenat 3,97% (Cakrawati, 2006).

Kandungan ALTJ yang tinggi dari biji buah kepayang merupakan keunggulan minyak kepayang dibandingkan minyak goreng lainya, karena ALTJ merupakan asam lemak esensial yang tidak bisa disintesis oleh tubuh sehingga untuk mencukupi kebutuhan tubuh harus mendapat asupan dari luar. ALTJ juga bermanfaat untuk mencegah atherolschlerosis (penyumbatan pembuluh darah) dan  penyakit jantung koroner. Potensi keunggulan minyak kepayang perlu dijelaskan ke masyarakat sehingga timbul kesadaran dari masyarakat untuk melestarikan tanaman kepayang dan memanfatkannya untuk produksi minyak secara komersial. Pemanfaatan biji kepayang harus diikuti dengan upaya pemanfaatan tanaman kepayang secara keseluruhan, misalnya buah dan kulit biji menjadi hasil samping pengolahan minyak kepayang yang memiliki  nilai ekonomi.

Kandungan ALTJ yang tinggi menjadikan minyak cepat mengalami ketengikan (rancid) yang ditandai tingginya kadar asam lemak bebas dan kadar peroksida, sehingga perlu cara pengolahan yang tepat dan sanitasi yang baik agar dihasilkan minyak kepayang sesuai standar perdagangan. Cara tradisional untuk memperoleh minyak dari buah kepayang adalah dengan merebus biji buah matang selama 2-3 jam kemudian dikupas, merendam  isi bijidan dikeringkan sampai minyaknya keluar kemudian dikempa dengan papan (Mahandari dkk., 2011).  Proses pengolahan secara tradisional tersebut belum memperhatikan aspek  rendemen, dan kualitas serta sanitasi sehingga produk yang dihasilkan belum bisa efisien dan belum bisa memenuhi standar perdagangan, misalnya Standar Nasional Indonesia (SNI). Menurut SNI, Standar Mutu Minyak Goreng Berdasarkan SNI - 3741- 1995  maksimal kadar air 0,3 %, kadar asam lemak bebas 0,3 %, dan kadar peroksida 2 mg ek/kg (Anonim, 2006). Standar kadar air, kadar asam lemak bebas dan kadar peroksida tersebut sebaiknya dipenuhi oleh industri pembuatan minyak kepayang agar produk lebih awet dan tidak mudah mengalami ketengikan. Pemahaman kepada masyarakat tentang standar mutu minyak goreng perlu dilaksanakan untukmeningatkan kualitasnya.

Mayarakat pembuat minyak kepayang perlu dipahami pentingnya cara produksi yang baik dan efisien serta ramah lingkungan. Berdasarkan penelitian telah diketahui berbagai metode pembuatan minyak kepayang. Pengetahuan ini akan diberikan kepada masyarakat selanjutnya masyarakat diberi kesempatan untuk menentukan metode terbaik berdasarkan rendemen dan mutu minyak dari hasil perhitungan dan analisis kimia. Produk minyak kepayang dari kelompok masyarakat untuk bisa dipasarkan perlu mendapatkan ijin dari Dinas Kesehatan Kabupaten setempat. Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah kelompok masyarakat pengolah kepayang harsu memahami dan menertapkan cara pembuatan produk pangan yang baik khususnya sanitasi. Oleh karenanya kegiatan pelatihan pembuatan minyak kepayang selain memberikan pemahaman potensi, berbagai metode dan standar mutu minyak minyak kepayang, juga memberikan pemahahan ke masyarakat tentang cara produksi yang baik khususnya aspek sanitasi sesuai Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia No. 75/M-IND/PER/7/2010 tentang Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) atau Good Manufacturing Practices (GMP).

Atas dasar tersebut, Konsorsium IPHD Merangin Jambi yang terdiri dari Yayasan Satunama Lembaga Arupa Gerakan Masyarakat Cinta Desa (G-cinDe) dan Universitas Mercu Buana Yogyakarta dengan dukungan dari MCA - Indonesia menyelenggarakan pelatihan di lima Desa antara lain Durian Rambun, Lubuk Birah, Lubuk Beringin, Tiaro, dan Birun. Lima desa tersebut berada di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Lima Desa tersebut pada tahun 2011 dan 2012 telah mendapatkan SK Hutan Desa dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta SK Hutan Adat dari Bupati Merangin. 

Pelatihan ini diselenggarakan pada tanggal 5-9 Januari 2017 dengan menghadirkan narasumber Ketua LPPM Universitas Mercu Buana Yogyakarta: Dr. Ir. Bayu Kanetro, MP. Peserta pelatihan sebanyak 250 orang dari 5 Desa tersebut di atas. Dalam pelatihan ini, ada dua hal penting yang dijadikan materi untuk disampaikan kepada peserta antara lain: 
  1. Pelatihan Good Manufacturing Practice (GMP), dan potensi/manfaat tanaman kepayang; 
  2. Pelatihan keunggulan dan pengolahan biji kepayang menjadi minyak goreng.

Hasil dari pelatihan ini antara lain sebagai berikut:
  1. Masyarakat memahami manfaat semua bagian tanaman kepayang
  2. Masyarakat memahami keunggulan minyak kepayang dibandingkan minyak sayur/nabati lainnya.
  3. Masyarakat bisa menghitung  rendemen,  dan mengevaluasi mutu produk pengolahan biji kepayang menjadi minyak metode/cara tradisional dan metode lainnya.
  4. Masyarakat mampu menentukan metode pembuatan minyak kepayang yang terbaik berdasarkan pertimbangan rendemen, mutu dan aspek ramah lingkungan.
  5. Masyarakat mengetahui adanya permasalahan dalam pembuatan minyak secara tradisional dan memahami cara pemecahan masalahnya 
  6. Masyarakat memahami pentingnya sanitasi dalam pengolahan biji kepayang menjadi minyak kepayang untuk melindungi pekerja dan menghasilkan produk sesuai standar mutu.
  7. Masyarakat memahami keterkaitan sanitasi dengan ijin pemasaran produk dari dinas kesehatan kabupaten setempat.

Thursday, January 12, 2017

Koordinasi Rutin Konsorsium

Para peserta koordinasi konsorsium tahap 2

Kegiatan ini dilaksanakan pada 14-15 November 2016 bertempat di Hotel Royal, Bangko. Koordinasi konsorsium ini merupakan yang kedua kalinya diadakan. Dihadiri oleh pimpinan lembaga anggota konsorsium dan struktur manajemen proyek, 8 perempuan dan 11 laki-laki. Hasil dari rapat ini antara lain sebagai berikut:
(1) Disepakatinya mekanisme koordinasi antar struktur
(2) Disepakatinya mekanisme pelaporan kegiatan dari pendamping desa ke program manager
(3) Disepakatinya standarisasi biaya di lapangan (konsumsi dan transport)
(4) Penyusunan workplan November - Desember 2016

Friday, December 30, 2016

Kelompok Pengelola Kepayang (KPK)

Biji kepayang dalam polibag sudah mulai tumbuh

Penguatan Kelompok Pengelola Kepayang (KPK) di lakukan dalam tiga tahap kegiatan. Kegiatan pertama dilakukan pada bulan September 2016 di lima desa. Pada kegiatan pertama tersebut, kami bersama masyarakat melakukan rapat pembentukan KPK beserta kepengurusannya. Hasil dari kegiatan tersebut yaitu terbentuk KPK di lima desa dengan struktur kepengurusan. Sebagai tindaklanjut dari kegiatan tersebut, maka dilakukan pertemuan KPK ke dua pada bulan September dan Oktober, serta dilakukan pertemuan KPK ketiga pada bulan November dan Desember.
Pada pertemuan KPK tahap kedua dihadiri oleh pengurus dan anggota KPK. Secara kuantitatif, rata-rata prosentase peserta perempuan dalam pertemuan tersebut sebesar 42 %. Hasil dari pertemuan KPK tahap dua adalah sebagai berikut:
  1. Tersusunnya program kerja KPK di lima desa
  2. Tersusunya databased kepayang seperti jumlah pohon, nama pemilik, persebaran pohon, dan potensi buah kepayang.

Pada pertemuan KPK tahap ketiga dihadiri oleh pengurus dan anggota KPK. Secara kuantitatif, rata-rata prosentase peserta perempuan dalam pertemuan tersebut sebesar 35 %. Prosentase ini menurun karena pada saat yang sama ada kegiatan posyandu yang menyita beberapa peserta perempuan sehingga diganti oleh peserta laki-laki. Hasil dari pertemuan KPK tahap dua adalah sebagai berikut:
  1. Ditetapkannya lahan desa untuk pembibitan pohon kepayang dan jenis bibit yang lain;
  2. Adanya daftar kebutuhan alat-alat dan perlengkapan persiapan pengolahan minyak kepayang.